Teori Motivasi  

Diposkan oleh bkuny

moleh : Panggih Wahyu Nugroho


Bab I

PENDAHULUAN

A. Pengertian

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik) (Akhmad Sudrajat). seluruh proses gerakan, termasuk situasi yang mednorong timbulnya kekuatan pada diri individu; sikap yang dipengaruhi untuk pencapaian suatu tujuan (Wulyo, 1990); suatu variabel yang ikut campur tangan yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran (J.P. Chaplin, 2001).

Suatu kekuatan yang mendorong atau menarik yang tercermin dalam tingkah laku yang konsisiten menuju tujuan tertentu (Lusi, 1996). Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. (Angelina Yuri Pujilistiyani.Ch)

Setiap orang pasti memiliki motivasi. Tingkatannya bisa berbeda-beda tergantung dari stimulus (rangsangan) yang diberikan otak. Selain berbeda tingkatannya, motivasi juga memiliki obyek (sasaran) yang berbeda. Belum tentu setiap orang memiliki sasaran motivasi yang sama dengan tingkatan yang sama pula.

B. Beberapa Teori tentang Motivasi :
1. Teori Kepuasan ( Content Theory)
- Teori Hirarki Kebutuhan Maslow (Maslow’s Hierarchy of Needs).

- Teori Mc Clelland
- Teori X dan Y (XY Theory)
- Teori ERG (ERG Theory)
- Teori Kebutuhan Mc. Clelland (Mc. Clelland Theory)
- Teori Motivasi-Higiene (Hygiene-Motivation Theory)

2. Teori Proses (Process Theory)
- Teori Harapan (Expectancy Theory)
- Teori Penentuan Tujuan (Goal Setting Theory)
- Teori Penguatan (Reinforcement Theory)
- Teori Keadilan (Equity Theory)

C. Urgensi Memotivasi Diri
1. Selalu Bersemangat
2. Tekun dalam Bekerja
3. Tidak Bergantung Motivasi dari Orang Lain
4. Selalu berinisiatif dan kreatif
5. Produksi dalam bekerja
6. Tercapainya tujuan yang diinginkan
7. Meraih tujuan lebih cepat
8. Optimis terhadap masa depan
9. Menikmati hidup dan pekerjaan
10. Terhindar dari kesepian
11. Terhindar dari rasa jenuh
12. Menunaikan kewajiban syar’i
13. Melaksanakan sunnah Rasul
14. Memperoleh sukses di dunia dan akhirat

D. Hambatan Memotivasi Diri
1. Kurangnya percaya diri
2. Cemas
3. Opini negatif
4. Perasaaan tidak ada masa depan
5. Merasa diri tidak penting
6. Tidak tahu apa yang terjadi
7. Pengakuan semu

Bab II

PEMBAHASAN

A. Theory Teori Achievement Mc Clelland ( Kebutuhan Berprestasi)

David McClelland, seorang pakar psikologi yang terkenal telah mempelajari hubungan antara kebutuhan dengan perilaku sejak tahun 1940an. Ia membagi kebutuhan menjadi tiga jenis, yaitu prestasi (achievement), kekuasaan (power), dan afilasi (affilation). Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

Merupakan teori yang dikenalkan oleh David McClelland (1961). Dasar teorinya tetap berdasarkan teori kebutuhan Maslow, namun ia mencoba mengkristalisasinya menjadi tiga kebutuhan:

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

· Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)

· Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)

· Need for Power (dorongan untuk mengatakan sesuatu)

B. Hirarki Maslow

Hirarki kebutuhan menurut Maslow adalah sebagai berikut:

1. The need for self-actualization

2. The esteem needs

3. The love needs

4. The safety needs

5. The 'physiological' needs

Dia berargumen bahwa seseorang tidak akan mencapai tingkat kebutuhan yang lebih tinggi sebelum tercapai kebutuhan yang di bawahnya. Misalnya, seseorang akan sulit mendapatkan kebutuhan akan cinta kalau kebutuhan fisiologisnya belum tercapai. Begitu seterusnya hingga sampai kebutuhan aktualisasi diri. Namun dalam penelitian selanjutnya ternyata ada individu yang tidak begitu saja harus membutuhkan kebutuhan di bawahnya sebelum meraih kebutuhan yang di atasnya.

C. Teori Keadilan (Equity Theory)

Teori ini dibentuk oleh J. Stacey Adams. Teori ini menerangkan tentang pekerja membandingkan kerjanya iaitu nisbah input dengan hasil yang relevan dan akan memperbetulkan sebarang ketidakseimbangan. Sekiranya pekerja mendapati nisbah input dengan hasil adalah sama, maka keadilan wujud, iaitu situasi yang seimbang. Sebaliknya, sekiranya ketidakadilan wujud, maka individu akan merasakan bahawa dia diberi ganjaran yang terkurang atau diberi ganjaran yang terlebih. Terdapat beberapa tindakbalas yang akan tercetus dalam teori ini, iaitu:

a. Memutarbelitkan input atau hasil mereka ataupun hasil orang lain.

b. Bertingkahlaku merangsang orang lain untuk mengubah input atau hasil.

c. Bertingkahlaku tertentu untuk mengubah input atau hasil mereka sendiri.

d. Memilih individu lain untuk dibuat perbandingan.

e. Letak jawatan

Sekiranya individu mendapati bahawa ganjaran atau upah yang diterima oleh mereka tidak setimpal, maka mereka akan berkelakuan seperti berikut:

a. Bagi pembayaran yang diterima berdasarkan masa kerja, pekerja yang diberi ganjaran terkurang akan mengeluarkan hasil kerja lebih daripada pekerja yang menerima bayaran setimpal.

b. Bagi pembayaran yang diterima berdasarkan kuantiti pengeluaran, pekerja yang diberi ganjaran terkurang akan mengeluarkan hasil kerja lebih bekerja lebih daripada pekerja yang menerima bayaran setimpal.

c. Bagi pembayaran yang diterima berdasarkan masa kerja, pekerja yang diberi ganjaran terkurang akan bekerja lebih daripada pekerja yang menerima bayaran setimpal.

D. Teori Harapan (Expectancy Theory)

Teori yang menerangkan tentang kecenderungan individu untuk bertingkahlaku tertentu berdasarkan jangkannya bahawa tingkahlaku tersebut berdasarkan kepada hasil yang menarik hatinya.

Terdapat 3 pembolehubah atau bentuk hubungan yaitu:

a. Jangkaan (expectancy) atau hubungan usaha-pencapaian : kebarangkalian jangkaan individu bahawa usaha akan membuahkan tahap pencapaian tertentu.

b. Instrumen/ kaedah (instrumentality) atau hubungan ganjaran-pencapaian : darjah kepercayaan individu bahawa kerja yang dilakukan berdasarkan kaedah tertentu akan membawa kepada hasil yang diingini.

c. Kesatuan (valence) atau tarikan ganjaran : darjah kepentingan yang diletakkan oleh individu terhadap hasil atau ganjaran yang boleh diperolehi dalam kerja. Valence menitikberatkan matlamat dan keperluan individu.

Bab III

KESIMPULAN

Kami menyimpulkan bahwa cara memotivasi diri perlu berpijak dari asumsi berikut;
1. Teori-teori motivasi yang ada merupakan rujukan utama dari cara menumbuhkan motivasi diri yang praktis dan mudah dilakukan.

2. Manusia memiliki empat dimensi diri yaitu mental, emosional, spiritual, dan fisik. Semua dimensi tersebut memiliki hubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi satu sama lain.

3. Berbagai cara menumbuhkan motivasi dari sebenarnya bersumber dari empet dimensi manusia.

Dengan menghidupkan satu atau lebih dimensi manusia tersebut kita dapat termotivasi.

4. Setiap dimensi manusia tersebut memiliki sumber pemicu untuk menumbuhkan motivasi diri.

Sumber pemicu itu adalah :

- Visualisasi (visualitation) untuk dimensi mental.

- Tanggung jawab (responsibility) untuk dimensi spiritual.

- Kenyamanan dan kesukaan (excited) untuk dimensi emosional.

- Gerakan (move) untuk dimensi fisik.

5. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan memotivasi diri yang tidak terbatas. Semakin besar upaya kita untuk menyalakan sumber pemicu motivasi semakin besar mativasi yang dihasilkan.

6. Menumbuhkan motivasi diri sebenarnya banyak caranya.

Dibutuhkan kreativitas agar kita dapat memicu munculnya mativasi yang tinggi dalam diri kita. Namun kreativitas tersebut sebenarnya berputar pada menstimulus sumber pemicu motivasi yang ada pada empat dimensi manusia (yakni visualisasi, tanggung jawab, kenyamanan/kesukaan dan gerakan).






This entry was posted on 07.38 and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Poskan Komentar (Atom) .

0 komentar