Pembelajaran Kreatif dengan Peraga  

Diposkan oleh bkuny

Pembelajaran Kreatif dengan Peraga

Oleh Khoiri
Permasalahan pendidikan di Indonesia seolah-olah tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Masalah-masalah yang akhir-akhir ini muncul, antara lain, mutu pendidikan, perubahan kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, sistem evaluasi, sertifikat guru, dan masalah yang menjadi proses belajar mengajar.

Yang justru jarang diangkat media adalah masalah-masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran yang diterapkan para guru di Indonesia. Padahal, masalah inovasi pembelajaran di kelas menjadi harapan agar mutu pendidikan nasional menjadi lebih baik, meningkat, dan progresif.

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis dalam melaksanakan tugas sebagai PBS (pemandu bidang studi) IPA tingkat SD. PBS Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tingkat kabupaten, dengan tegas yaitu:
1. Menyelenggarakan kelompok kerja guru (KKG) guru IPA tiap gugus sekolah (Guslah).
2. Melaksanakan monitoring guru-guru IPA dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan hasil monitoring kelas pada saat pembelajaran IPA, banyak sekali masalah yang muncul yang dialami guru yaitu:
1. Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang akan disampaikan.
2. Kesulitan memakai pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar anak.
3. Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajaran yang ada.
4. Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga uang sesuai dengan materi yang diajarkan.
5. Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa, dan sering bersifat verbalisme.

Setelah ditemukan berbagai masalah dalam pembelajaran IPA SD, dicatat dan diidentifikasi dan masalah tersebut dibahas dalam KKG IPA tiap guslah. Untuk membenahi berbagai kekurangan pembelajaran, para guru bergantian melaksanakan microteaching, di hadapan guru lain secara bergantian, sehingga masalah-masalah dalam pembelajaran dieliminasi sekecil mungkin.

Persoalan dalam pembelajaran merupakan suatu dinamika kehidupan guru dan murid di sekolah. Masalah itu tak akan pernah habis untuk dikupas dan tak pernah tuntas dibahas. Maka dari itu, guru hendaknya senantiasa belajar dan belajar agar dapat mengajar dan mendidik dengan seprofesional mungkin. Begitu juga murid-murid, setiap tahun berganti murid, masalah yang dihadapi guru akan berbeda pula.

Berikut ini pemaparan pengalaman belajar yang dapat dijadikan bahan pembanding bagi guru lain. Di suatu pagi dilaksanakan pembelajaran IPA di kelas 6 materi yang diajarkan adalah "darah". Penulis merencanakan dari mana pembelajaran tersebut dapat dimulai agar anak-anak senang dalam mengikuti pelajaran.

Untuk memunculkan motivasi anak belajar secara eksternal (dari luar diri anak), dimulailah pembelajaran dengan sosiodrama yang begitu mengejutkan. Tanpa diketahui murid-murid penulis menusuk ujung jari tengah dengan jarum yang telah disediakan, "Aduh .... aduh", sambil memegangi jari tengah yang ditusuk. Tak lama kemudian semua konsentrasi anak tertuju pada ujung jari berdarah, cuma pura-pura panik, dan meminta tolong salah satu murid untuk mengusap darah yang keluar dari jari tengah guru.

Dengan bergegas murid tersebut mengusap dengan perasaan cemas. Semua murid tercengang dan tertuju pada darah yang dilihatnya. Lalu guru bertanya, "Apa yang terdapat pada kapas ini?" Spontan murid-murid menjawab, "Darah, Pak." Maka, guru melanjutkan pertanyaan-pertanyaan seputar materi "darah". Hal itu ditujukan untuk melaksanakan prestasi guna mengetahui tingkat permasalahan siswa terhadap materi yang akan disampaikan. Prestasi sangat penting dalam pembelajaran karena dengan prestasi dapat memberikan prestasi sesuai kebutuhan anak.

Kegiatan memberikan motivasi dan prestasi merupakan kegiatan awal pembelajaran. Kegiatan itu perlu direncanakan sebaik mungkin guna mengoordinasikan murid-murid untuk "siap" belajar, menerima pelajaran, bertanya dan menggali ilmu pengetahuan yang akan dipelajari.

Kegiatan yang bisa memberikan motivasi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan. Misalnya metode ceramah (bercerita), peragaan, demonstrasi, dan sosiodrama dengan bermain peran, serta metode tanya jawab.

Pada kegiatan memberikan motivasi, guru hendaknya memberikan pertanyaan awal yang mengarahkan pada materi yang akan dibahas, sehingga muncul berbagai "opini" anak tentang materi pelajaran. Hal ini penting sekali bagi murid untuk menghindarkan pada pola pembelajaran DDCH (duduk, dengar, catat, dan hafal). Pola pembelajaran DDHC punya kelemahan antara lain:

1. Kurangnya interaksi guru murid dapat menurunkan motivasi anak belajar.
2. Murid apatis karena tidak terlihat aktif dalam proses pembelajaran.
3. Murid kesulitan memahami konsep materi pelajaran, karena kurang andilnya media pembelajaran dan metode yang sesuai.
4. Munculnya trauma murid kepada guru yang mengajar .
5. Materi pelajaran yang diserap murid masuk dalam ingatan jangka pendek alias STM (short time memory).
6. Prestasi pembelajaran IPA SD cenderung menurun.

Untuk mengurangi berbagai permasalahan di atas, guru dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran "PAKEMI" yaitu Pembelajaran Aktif, Kreatif, Enak, Menyenangkan. dan Inovatif. Pendekatan pembelajaran PAKEMI paling tidak dapat membawa angin perubahan dalam pembelajaran, yaitu:

1. Guru dan murid sama-sama aktif dan terjadi interaksi timbal balik antara keduanya. Guru dalam pembelajaran tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pendidik juga berperan sebagai fasilitator.
2. Guru dan murid dapat mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran. Guru dapat mengembangkan kreativitasnya dalam hal: teknik pengajaran, penggunaan multimetode, pemakaian media, dan guru dapat berperan sebagai mediator bagi murid-muridnya.
3. Murid merasa senang dan nyaman dalam pembelajaran, tidak merasa tertekan sehingga proses berpikir anak akan berjalan normal.
4. Munculnya pembahasan dalam pembelajaran di kelas.

Setelah selesai dengan kegiatan awal guru dapat melanjutkan dengan kegiatan inti, yang meliputi berbagai kegiatan yaitu: pembelajaran kelompok kerja, pengerjaan tugas dalam kelompok, penjelasan, tanya jawab, pemaparan hasil kerja kelompok dan kesimpulan.

Sedangkan kegiatan penutup pelajaran dapat dilakukan kegiatan : pemantapan, yaitu mengulas kembali semua materi yang telah diserap murid. Selanjutnya ada tanya jawab tentang aplikasi materi pelajaran yang sudah dibahas dengan penerapan yang terjadi di sekitar murid. Kegiatan akhir penutup adalah Post Test : Pemberian evaluasi akhir pelajaran untuk mengetahui daya serap murid terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan.

Akhirnya pembelajaran yang dilaksanakan jika ingin mencapai "sukses" sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu: guru, murid, tujuan yang akan dicapai, penggunaan media pelajaran, metode yang diterapkan, dan sistem evaluasi yang tepat. (*)
Khoiri
SDN Kemirisewu I, Pandaan, Pasuruan

This entry was posted on 07.33 and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Poskan Komentar (Atom) .

0 komentar